Rumah panggung berdiri rapat di atas air. Pelantar kayu menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lain, sementara perahu membawa warga menuju daratan, tempat kerja, atau pasar. Di sela aktivitas itu, jual beli berlangsung di atas air, bukan sebagai pertunjukan, melainkan bagian dari rutinitas.
Sedanau di Natuna menjadi contoh utama, lalu dapat dibandingkan dengan Bontang Kuala, Torosiaje, Margasari, Tablasupa, Ayapo, dan kawasan air di Banjarmasin.
Istilah kota di atas air juga perlu dipahami dengan tepat. Permukiman yang benar-benar dihuni berbeda dari konsep kota terapung masa depan yang masih berupa gagasan. Perbedaannya terlihat dari rumah, pekerjaan, mobilitas, dan cara warga merawat lingkungannya.
Apa yang Membuat Kota di Atas Air Begitu Berbeda?

Kota atau permukiman di atas air adalah kawasan tempat sebagian bangunan, jalan, dan kegiatan masyarakat berada di atas laut, sungai, atau perairan dangkal. Namun, bentuknya tidak selalu sama.
Sebagian rumah berdiri di atas tiang yang tertanam di dasar perairan. Bangunan lain mengapung dengan bantuan struktur khusus. Ada juga kampung pesisir yang sebagian besar rumahnya berada di darat, tetapi warganya terhubung melalui jembatan, gertak, atau pelantar kayu.
Karena itu, istilah “kota terapung” sering dipakai secara populer. Beberapa lokasi sebenarnya berstatus desa, kelurahan, atau kampung. Penyebutan tersebut menggambarkan karakter kawasan, bukan selalu status administratifnya.
Permukiman seperti ini tumbuh karena alasan yang masuk akal. Laut dan sungai menyediakan ikan, jalur transportasi, serta akses menuju lokasi kerja. Di tempat dengan lahan darat terbatas, warga membangun rumah mengikuti ruang yang tersedia di atas air.
Sejarah perpindahan masyarakat pesisir juga ikut membentuknya. Kelompok yang menggantungkan hidup pada laut membutuhkan rumah yang dekat dengan perahu dan wilayah tangkap. Karena itu, arsitektur tidak bisa dipisahkan dari pekerjaan sehari-hari.
Setiap tempat tetap memiliki ciri berbeda. Kondisi gelombang di laut Natuna tidak sama dengan arus Sungai Barito. Budaya masyarakat pesisir di Kalimantan juga berbeda dari tradisi Suku Bajo di Gorontalo atau Papua.
Sedanau, Natuna, Menawarkan Pengalaman Kota Terapung yang Nyata

Pulau Sedanau di Kabupaten Natuna adalah salah satu contoh paling jelas tentang kawasan perkotaan yang tumbuh di atas laut. Sebagian besar permukimannya berada di atas perairan, dengan angka yang disebut berbagai sumber berkisar 70 sampai 95 persen. Angka itu sebaiknya dipahami sebagai perkiraan, bukan ukuran mutlak yang berlaku untuk seluruh wilayah.
Rumah-rumah di Sedanau berdiri dengan penyangga yang tertanam di dasar laut. Pelantar kayu menjadi jalan utama antarbangunan sekaligus ruang untuk berbincang, membawa barang, dan menambatkan perahu. Di sepanjang pelantar, ruko dan tempat usaha melayani kebutuhan harian warga.
Permukiman Sedanau juga berkembang sekitar 2,5 kilometer ke arah laut. Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat memperluas ruang tinggal tanpa meninggalkan hubungan dengan perairan. Sedanau dikenal sebagai kawasan perkotaan terbesar kedua di Natuna setelah Ranai.
Pengunjung bisa melihat kegiatan perdagangan, pergerakan perahu, serta pola rumah yang mengikuti garis pantai. Pantai Pasir Marus dapat melengkapi perjalanan, tetapi daya tarik utama Sedanau tetap berada pada kehidupan warganya.
Kunjungan ke sini terasa berbeda dari mendatangi objek wisata yang hanya menawarkan panorama. Di Sedanau, laut adalah halaman rumah, jalan, tempat bekerja, dan bagian dari sistem ekonomi.
Bontang Kuala dan Margasari Memperlihatkan Wajah Kampung Air di Kalimantan

Kampung Bontang Kuala di Kota Bontang berkembang sejak 1800-an. Rumah-rumahnya berdiri di atas tiang kayu dan terhubung oleh jalan kayu atau gertak. Warga dapat berjalan di atas jalur tersebut sambil melihat aktivitas nelayan dan usaha kecil di sekitar kampung.
Data tahun 2021 mencatat Bontang Kuala memiliki sekitar 6.910 jiwa dan luas wilayah 627 hektare. Angka ini memberi konteks bahwa kawasan tersebut bukan sekadar titik kunjungan, melainkan permukiman dengan komunitas yang besar.
Di Balikpapan, Kampung Atas Air Margasari berada di kawasan pesisir Balikpapan Barat, sekitar Jalan Sepaku Laut. Karakternya terlihat melalui rumah panggung, akses jembatan, kegiatan nelayan, dan usaha warga. Beberapa pengunjung datang untuk berjalan di atas pelantar, sedangkan sebagian lainnya memilih penginapan atau vila atas laut.
Bontang Kuala dan Margasari sama-sama menunjukkan kehidupan kampung pesisir. Namun, pengalaman di masing-masing tempat bergantung pada kondisi pasang surut, bentuk bangunan, akses, dan aktivitas warga pada hari kunjungan.
Destinasi Unik dengan Kehidupan Masyarakat yang Berbeda
Setiap permukiman air menawarkan pengalaman yang tidak sama. Pilihan tempat sebaiknya mengikuti tujuan perjalanan, bukan hanya foto yang terlihat menarik di media sosial.
Torosiaje cocok bagi pengunjung yang ingin memahami budaya masyarakat laut. Tablasupa lebih sesuai untuk perjalanan yang menggabungkan kehidupan nelayan dengan wisata bawah laut. Ayapo menarik bagi mereka yang ingin melihat desa yang memanjang di atas air.
Bontang Kuala dan Margasari memberikan suasana kampung pesisir yang lebih dekat dengan kawasan perkotaan. Sedanau menampilkan permukiman laut dengan perdagangan harian yang aktif. Sementara itu, Banjarmasin memperlihatkan bahwa kehidupan berbasis air juga tumbuh di sungai.
Jumlah rumah, penduduk, dan fasilitas wisata dapat berubah. Sebelum berangkat, periksa informasi terbaru tentang akses, kondisi transportasi, cuaca, serta aturan kunjungan setempat.
Torosiaje, Kampung Suku Bajo yang Dibangun Jauh dari Daratan

Desa Torosiaje berada di Kecamatan Popayato, Gorontalo. Kampung ini dibangun sepenuhnya di atas air, sekitar 500 meter dari daratan. Rumah panggung dan jalur kayu membentuk permukiman yang terpisah dari garis pantai.
Masyarakat Suku Bajo memiliki hubungan panjang dengan laut. Perahu menjadi alat transportasi penting, sedangkan penangkapan ikan menjadi bagian dari mata pencaharian. Pengetahuan membaca cuaca, arah angin, dan perubahan arus membantu warga menentukan waktu beraktivitas.
Torosiaje tidak seharusnya diperlakukan sebagai panggung pertunjukan. Pengunjung perlu meminta izin sebelum memotret warga, terutama ketika mengambil gambar di sekitar rumah atau saat mereka bekerja. Berbicaralah dengan pemandu lokal agar kunjungan mengikuti kebiasaan masyarakat.
Pengalaman terbaik di Torosiaje muncul ketika wisatawan mau mendengar cerita warga. Kehidupan di kampung ini memiliki aturan, ingatan, dan pengetahuan yang tidak selalu terlihat dari permukaan air.
Tablasupa dan Ayapo Menyatukan Kehidupan Terapung dengan Alam Papua
Kampung Tablasupa di Distrik Depapre, Jayapura, dikenal sebagai desa wisata dengan kehidupan nelayan, usaha pariwisata, dan lingkungan bawah laut. Sumber wisata menyebut lebih dari 20 lokasi menyelam dan sekitar 50 lokasi snorkeling di kawasan tersebut.
Angka itu adalah informasi dari sumber wisata, bukan jaminan bahwa semua lokasi selalu dapat dikunjungi. Cuaca, kondisi laut, kemampuan pemandu, dan aturan konservasi tetap menentukan kegiatan di lapangan.
Ayapo menawarkan bentuk pengalaman yang berbeda. Desa ini memiliki bangunan di atas air yang memanjang sekitar 2 kilometer. Sumber yang tersedia menyebut jumlah penduduknya sekitar 700 orang. Pola tersebut membuat perjalanan di Ayapo lebih menekankan pengamatan terhadap bentuk desa dan kehidupan masyarakat.
Tablasupa cocok bagi wisatawan yang mencari wisata bahari. Ayapo lebih menarik bagi mereka yang ingin memahami pola permukiman dan rutinitas warga di ruang air.
Banjarmasin Menunjukkan Bahwa Kota Air Tidak Selalu Berada di Laut
Banjarmasin memperluas pemahaman tentang kota air. Di kawasan pertemuan Sungai Kuin dan Sungai Barito, terutama sekitar Kuin Utara, sungai menjadi jalur transportasi, ruang sosial, sumber penghasilan, dan bagian dari identitas kota.
Pasar terapung sering menjadi gambaran paling dikenal. Namun, kehidupan sungai tidak berhenti pada aktivitas jual beli. Rumah bantaran, perahu kecil, dermaga, dan perjalanan harian memperlihatkan hubungan warga dengan arus sungai.
Banjarmasin bukan kota yang seluruh wilayahnya terapung. Sebagian besar kota berada di daratan, tetapi sungai memengaruhi cara warga bergerak dan mencari nafkah. Perbedaan ini penting agar wisatawan tidak menyamakan kampung terapung di laut dengan kota air berbasis sungai.
Bagaimana Masyarakat Bertahan dan Berkembang di Atas Air?
Lingkungan air memengaruhi hampir setiap keputusan sehari-hari. Letak rumah menentukan cara warga menyimpan barang, menerima tamu, dan mencapai daratan. Pasang surut juga memengaruhi waktu berangkat, menambatkan perahu, atau mengangkut hasil tangkapan.
Rumah, Pelantar, dan Perahu Menjadi Infrastruktur Utama
Tiang kayu atau penyangga menopang banyak rumah di kawasan pesisir. Warga memilih bahan bangunan yang sesuai dengan kelembapan, angin, dan kondisi air setempat. Namun, rumah tetap membutuhkan perawatan karena menghadapi korosi, gelombang, pasang surut, dan angin kencang.
Pelantar berfungsi sebagai jalan dan tempat berkumpul. Jalurnya harus mengikuti jarak antarbangunan serta perubahan tinggi air. Ketika pelantar rusak, aktivitas warga ikut terganggu.
Perahu juga memiliki banyak fungsi. Warga memakainya untuk menuju daratan, bekerja, berdagang, mengantar anak, atau membawa hasil laut. Di kawasan sungai, perahu bahkan menjadi bagian dari pola transportasi harian.
Kebakaran dan cuaca buruk menjadi risiko yang perlu diperhitungkan. Jarak antarbangunan, akses menuju daratan, dan jalur evakuasi sangat menentukan keselamatan warga.
Ekonomi Lokal Tumbuh dari Laut, Sungai, dan Kunjungan Wisatawan
Nelayan bukan satu-satunya pekerja di permukiman air. Ada pedagang, pengolah hasil laut, pemilik perahu, pengelola penginapan, pemandu snorkeling, serta pelaku usaha makanan.
Di Sedanau, ruko yang berdiri di atas pelantar menunjukkan bahwa perdagangan harian tumbuh mengikuti struktur permukiman. Tablasupa memperlihatkan bentuk lain melalui usaha wisata bahari dan jasa pemandu.
Pariwisata memberi manfaat ketika pendapatan masuk langsung kepada warga. Pengunjung dapat memilih pemandu lokal, membeli makanan setempat, atau memakai jasa perahu milik masyarakat.
Sebaliknya, kawasan akan terbebani jika hanya dijadikan latar foto. Warga berhak menentukan ruang yang boleh dikunjungi dan cara kehidupan mereka ditampilkan.
Kehidupan di Atas Air Membawa Tantangan Lingkungan dan Layanan Dasar
Sampah, air bersih, limbah rumah tangga, listrik, internet, sekolah, dan layanan kesehatan membutuhkan perhatian khusus. Evakuasi juga lebih sulit ketika cuaca memburuk atau gelombang meninggi.
Kenaikan muka laut, abrasi, pencemaran, dan tekanan wisata dapat memperbesar masalah. Solusinya perlu sesuai kondisi kampung. Pengelolaan sampah berbasis warga, toilet yang aman bagi lingkungan, aturan kunjungan, serta jalur evakuasi yang jelas dapat membantu.
Pembangunan fasilitas harus meningkatkan keamanan tanpa menghapus karakter kampung. Jalan beton, lampu, atau bangunan baru tidak otomatis menyelesaikan masalah jika tidak sesuai dengan pola air dan kebutuhan warga.
Cara Berkunjung agar Wisata Kota Air Tetap Bertanggung Jawab
Perjalanan ke permukiman air membutuhkan persiapan lebih daripada kunjungan ke objek wisata biasa. Akses laut dan sungai dapat berubah karena cuaca, pasang, kerusakan pelantar, atau kondisi transportasi.
Sebelum berangkat, periksa:
- Kondisi cuaca, gelombang, pasang surut, dan transportasi menuju lokasi.
- Aturan lokal, akses terbaru, serta ketersediaan pemandu.
- Ruang yang boleh difoto dan area pribadi yang tidak boleh dimasuki.
- Cara membayar jasa perahu, pemandu, atau penginapan secara langsung kepada pengelola.
Pilih Pengalaman Sesuai Tujuan Perjalanan
Sedanau sesuai untuk melihat permukiman dan perdagangan di atas laut. Bontang Kuala atau Margasari menawarkan suasana kampung pesisir dengan jalur kayu dan rumah panggung.
Torosiaje cocok bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Suku Bajo. Tablasupa memberi ruang untuk wisata bawah laut, sedangkan Ayapo memperlihatkan desa terapung yang memanjang. Banjarmasin lebih tepat bagi pengunjung yang ingin mengikuti tradisi kehidupan sungai.
Destinasi paling menarik bukan selalu yang paling fotogenik. Pilih tempat berdasarkan minat, waktu, kemampuan fisik, dan kesiapan mengikuti aturan setempat.
Hormati Warga dan Kurangi Jejak Wisata
Minta izin sebelum mengambil foto. Jangan memasuki rumah atau pelantar pribadi tanpa persetujuan. Jaga suara, ikuti arahan pemandu, dan gunakan jasa yang dikelola warga.
Bawalah kembali sampah, hindari plastik sekali pakai, dan jangan membuang apa pun ke air. Saat snorkeling, jangan menyentuh terumbu karang atau memberi makan satwa.
Konten perjalanan juga perlu dibuat dengan hormat. Hindari menggambarkan warga sebagai tontonan atau menampilkan kehidupan mereka secara merendahkan. Wisata yang baik mendukung masyarakat sebagai pemilik ruang hidup, bukan menjadikan mereka objek semata.
Kehidupan di Atas Air Adalah Warisan yang Masih Bergerak
Sedanau, Bontang Kuala, Margasari, Torosiaje, Tablasupa, Ayapo, dan Banjarmasin menunjukkan banyak bentuk kehidupan di atas air. Laut Natuna, pesisir Kalimantan, perairan Gorontalo, Papua, dan sungai-sungai Banjarmasin membentuk pengalaman yang berbeda.
Keunikannya berasal dari budaya, pekerjaan, arsitektur, serta cara warga merawat lingkungan. Rumah yang tampak mengapung hanyalah bagian paling terlihat dari kehidupan tersebut.
Permukiman nyata memiliki penduduk, rutinitas, dan kebutuhan layanan dasar. Hal itu berbeda dari gagasan kota terapung masa depan yang masih berada di tingkat konsep.
Saat berkunjung, dukung ekonomi lokal dan ikuti aturan masyarakat. Lihat warga sebagai tuan rumah yang memiliki ruang hidup, bukan sebagai bagian dari dekorasi wisata.





